Pemimpin Tingkat Lima

Ratusan pemimpin telah dihasilkan melalui pilkada. Namun, tetap saja negeri ini tak juga membaik. Dibutuhkan pemimpin tingkat lima untuk mengobatinya.

Perempuan setengah baya itu menyorongkan mukanya. Bibirnya segera saja membentuk huruf “O” saat ia meniup bara api di hadapannya. Tak lama, api menyala di sebuah tungku yang tak terlalu besar. Kayu-kayu berukuran kecil yang disusun bertumpuk, mengeluarkan suara gemeletak, sesaat setelah dijalari si Jago Merah. Tangan wanita tersebut dengan cekatan meraih panci berisi air. Diletakkannya panci itu di atas tungku.
Setiap hari, lakon itu dilakukan Sinah, ibu empat anak, di rumahnya di pinggiran Kota Bekasi. Ia tak lagi memakai minyak tanah untuk memasak seiring dengan mahal dan langkanya barang tersebut. Tabung gas yang diberikan pemerintah pun tak digunakannya. Sehari-hari, ia menggunakan kayu bakar untuk memasak. “Lebih irit, gak keluar banyak uang,” katanya.
Sinah harus berhemat. Tidak hanya minyak tanah yang mahal, harga bahan-bahan kebutuhan pokok pun terus merambat naik, setiap hari, termasuk kedelai dan terigu, yang mengakibatkan harga tempe dan tahu membubung tinggi. “Makan tempe aja sekarang susah,” ujar Sinah yang bersuamikan tukang ojek.

Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, ada jutaan Sinah lain yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Mereka banting tulang hanya untuk melahap menu sederhana yang kian hari tak terjangkau isi kantong: nasi, tempe dan tahu.

Nasib rakyat tak kunjung berubah walau reformasi telah bergulir satu dasawarsa. Revolusi Mei 1998, meminjam istilah majalah Far Eastern Economic Review, yang ditandai lengser keprabonnya Soeharto dari kursi kepersidenan, melahirkan Orde Reformasi. Liberalisasi politik terjadi. Partai politik tumbuh bak cendawan di musim hujan. Hingar-bingar politik terdengar di penjuru Tanah Air.

Tahun 1999, berlangsung pemilu pertama pasca Orde Baru, yang berlangsung demokratis. Disusul 2004, ketika untuk kali pertama, rakyat negeri ini memilih presiden dan wakilnya secara langsung. Setelah itu, dilaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung di berbagai daerah.

Bagai balap lari, pilkada berlangsung susul-menyusul, tak berhenti hingga saat ini. Sejak reformasi, telah berlangsung 500 kali pilkada. Itu berarti rata-rata setahun ada 100 pilkada. Jika setahun, maka setiap 3,5 hari akan ada pilkada.

Biaya yang dikeluarkan tak tanggung-tanggung: Rp 200 trilyun selama lima tahun. Dengan asumsi penyelenggaraan pemilu menghabiskan dana puluhan trilyun, sedangkan pilkada mencapai ratusan milyar. “Tidak ada di dunia ini pemilu yang boros seperti ini,’’ ujar Wapres Jusuf Kalla, gusar.

Ratusan pemimpin telah dipilih mulai dari presiden, gubernur, walikota dan bupati. Hasilnya? Di Jakarta, pedagang gorengan bunuh diri karena mahalnya harga minyak tanah dan terigu. Di Cirebon, banyak masyarakat yang menggantikan nasi dengan tiwul dan aking (nasi bekas yang dikeringkan-red).Para pengusaha tempe dan tahu menutup usahanya karena harga kedelai mahal. Antrean rakyat terjadi di mana-mana untuk membeli minyak tanah; dan Sinah yang harus menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Apa penyebabnya? “Kita krisis kepemimpinan,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Taufik Abdullah, dalam sebuah wawancara dengan NEBULA (Majalah ESQ165). “Rakyat tak punya lagi teladan. Ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin.” Akibatnya,” Mereka tak merasakan penderitaan rakyat,” kata Taufik lagi.

Berbeda dengan Ali bin Abi Thalib yang rela membantu memasak untuk menebus kesalahannya. Itu dilakukan Ali saat berkunjung ke sebuah rumah yang dihuni seorang janda dengan dua anak. “Tampaknya tidak ada seorang pun lelaki yang membantu. Sekiranya ada, tentu dialah yang menggantikan engkau mengambil air. Kenapakah engkau sampai begini?”

“Suamiku adalah seorang tentara. Dia telah dikirim oleh Ali bin Abi Thalib ke daerah perbatasan. Namun, dia terbunuh di sana,” kata wanita itu.

Ali tentu saja terhenyak. Hari berikutnya, ia datang lagi ke rumah wanita itu, membawa daging, tepung terigu dan kurma. “Semoga Allah meridhaimu dan mengadili antara kami dengan Ali bin Abi Talib,” ujar wanita itu lagi.

Ali kemudian minta izin memasak beberapa potong daging yang ia bawa, dan ia hidangkan kepada anak-anak itu dengan sedikit kurma. Anak-anak itu dia suapi seraya berkata kepada mereka: “Maafkan Ali bin Abi Thalib, kalau dia telah menyia-nyiakan hakmu.”

Ali pun tak menolak ketika disuruh sang perempuan menyalakan tungku api. Api menyala, panasnya menyentuh kulit. “Rasakan panas api. Inilah balasan bagi orang yang lalai terhadap hak-hak para janda dan anak-anak yatim,” ujar Ali dalam hati.

Akhirnya, ada seorang tetanga, masuk ke rumah itu, dan mengenali Ali.

Seketika itu juga, sang janda menghampiri al-imam, memohon maaf. “Tidak, jangan kau meminta maaf. Justru akulah yang meminta maaf kepadamu, karena akulah yang telah menyia-nyiakanmu.”

Ali tentu saja meneladani perilaku kepemimpinan gurunya: Nabi Muhammad saw. “Tak ada manusia yang mampu membangun peradaban besar seperti yang pernah dilakukan oleh Muhammad,” kata Michael Hart, yang menempatkan Muhammad di posisi teratas dari 100 Tokoh Berpengaruh Dunia.

Ary Ginanjar menyebut Nabi Akhir Zaman itu sebagai Pemimpin Tingkat Lima, yakni pemimpin abadi. Untuk sampai ke tingkat lima, seorang pemimpin harus terlebih dahulu menjadi pemimpin yang dicintai, dipercaya, menghasilkan kader, dan memiliki kepribadian tangguh. Pemimpin semacam itu, hanya dapat dicapai jika nilai-nilai spiritualitas yang bersumber dari Asma’ul Husna dijalankan, di antaranya: Jujur, Adil, Tanggungjawab, Disiplin, Kerjasama, Peduli, Visioner. Itulah yang disebut Leadership Principle (Prinsip-prinsip Kepemimpinan).

Jim Collins dalam Good to Great mendefinisikan Pemimpin Tingkat Lima sebagai orang yang tidak berhenti berjuang untuk melakukan yang terbaik yang bisa dikerjakan. Mereka tak akan berhenti untuk senantiasa berjuang untuk menghasilkan sesuatu yang paling baik (hebat).
Ada enam karakteristik Pemimpin Tingkat Lima.

Pertama, rendah hati. Jika pemimpin ”biasa” akan berusaha menarik perhatian dunia pada prestasi yang dilakukannya, dan berfokus pada diri sendiri, maka pemimpin tingkat lima melakukan yang sebaliknya. Mereka melakukan yang terbaik untuk banyak orang tanpa banyak bicara. Sedapat mungkin, mereka cenderung mengalihkan topik pembicaraan dari prestasi mereka kepada prestasi dan dukungan orang-orang di sekitar mereka.

Kedua, sederhana. Mereka memilih untuk hidup tak berlebihan. Mereka juga tidak menuntut untuk diperlakukan secara istimewa oleh orang-orang di sekitar mereka. Ken Iverson, CEO dari Nucor, tetap tinggal di rumahnya yang sudah ditinggalinya bersama keluarganya selama bertahun-tahun, ia juga hanya memiliki satu garasi, sesuai dengan kebutuhan keluarganya.

Ketiga, keyakinan kuat. Mereka memiliki keyakinan untuk berhasil. Keyakinan kuat itu memompakan energi dan semangat luar biasa untuk berjuang meraih keberhasilan yang diyakininya tersebut. Masalah, hambatan, kesulitan, bahkan krisis ekonomi sekalipun tidak bisa mematahkan semangatnya untuk meraih keberhasilan.

Keempat, ambisi melakukan yang terbaik. Mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya. Terbaik di sini tentu saja bukan terbaik untuk dirinya sendiri, melainkan terbaik untuk banyak orang.

Kelima, tegas dalam bertindak. Ketika seorang pemimpin tingkat lima telah memiliki keyakinan untuk berhasil, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan bertindak untuk bergerak ke arah keberhasilan. Dalam bertindak, mereka tidak segan-segan untuk bertindak tegas, jika memang itu yang diperlukan untuk menyingkirkan akar permasalahan yang mengganggu perjalanan membawa para pendukung menuju sukses.

Keenam, menabur untuk masa depan. Sebuah perusahaan bisa saja menjadi perusahaan terkemuka di satu saat di bawah pimpinan seorang CEO tertentu. Tetapi setelah sang CEO tidak lagi berkarya di sana, maka jatuhlah perusahaan tersebut. Pemimpin tingkat lima, tidak memikirkan keberhasilan sesaat, tetapi keberhasilan yang berkesinambungan.

Comments :

0 komentar to “Pemimpin Tingkat Lima”


Posting Komentar